Belajar AI

Prompt Engineering Itu Bukan Soal Hafal Formula Ini yang Aku Pelajari Setelah Salah Berkali-kali

63
×

Prompt Engineering Itu Bukan Soal Hafal Formula Ini yang Aku Pelajari Setelah Salah Berkali-kali

Share this article

Prompt Engineering Itu Bukan Soal Hafal Formula  Ini yang Aku Pelajari Setelah Salah Berkali-kali

Waktu pertama kali bikin storyboard untuk DigiCanvas, aku ketik prompt ke Claude:

“Buatkan storyboard untuk video dengan judul X.”

Hasilnya jadi. Tapi rasanya seperti makan nasi tanpa lauk  ada, tapi hambar. Visualnya bisa dipakai brand kopi, brand fashion, brand skincare, brand apapun. Tidak ada satu pun elemen yang terasa seperti DigiCanvas. Aku revisi, hasilnya tetap generik. Revisi lagi, tetap sama.

Yang bikin frustrasi bukan hasilnya jelek. Yang bikin frustrasi adalah aku tidak tahu kenapa.

 

Beberapa waktu kemudian aku coba Freepik Premium+.

Di dalam Freepik ada yang namanya assistant tools  dirancang khusus untuk bikin storyboard dan prompt image. Bukan field kosong yang perlu diisi manual. Dia tanya style-nya mau seperti apa, mood-nya bagaimana, tone visualnya ke mana. Konteks yang selama ini tidak pernah aku kasih ke Claude karena aku sendiri tidak tahu harus kasih dari mana.

Waktu hasilnya keluar, reaksi pertama aku cuma satu kata: wow.

Bukan karena Freepik-nya lebih pintar dari Claude. Tapi karena assistant tools-nya memaksa aku untuk memberi informasi yang selama ini aku skip. Dan ternyata informasi itulah yang selama ini hilang.

 

Di situlah aku mulai paham sesuatu yang tidak pernah ditulis di tutorial prompt engineering manapun yang pernah aku baca.

Prompt yang bagus bukan soal formatnya. Bukan soal panjang-pendeknya. Bukan soal pakai kata “act as” atau “you are an expert in” atau framework apapun yang beredar di Twitter.

Prompt yang bagus adalah prompt yang kasih konteks cukup untuk AI bekerja dari perspektif kamu  bukan dari perspektif defaultnya.

Waktu aku ketik “buatkan storyboard video judul X”, Claude tidak tahu ini untuk brand creative studio lokal, target audiensnya UMKM Indonesia, tone-nya harus terasa premium tapi accessible, durasinya 60 detik untuk Instagram Reels. Dia tidak tahu karena aku tidak bilang. Jadi dia pakai asumsi paling umum yang tersedia  dan hasilnya memang paling umum yang tersedia.

 

Yang kemudian aku coba adalah kombinasi yang menurutku cukup powerful: Freepik Assistant untuk bangun konteks visual, Claude untuk eksekusi narasi dan struktur.

Freepik Assistant-nya bantu aku verbalisasi hal-hal yang sebelumnya cuma ada di kepala  style, mood, referensi visual. Setelah itu konteks yang sudah terbentuk itu aku bawa ke Claude untuk dikerjakan lebih dalam.

Hasilnya berbeda jauh dari percobaan pertama.

Bukan karena aku sudah hafal formula prompt yang lebih canggih. Tapi karena aku akhirnya tahu apa yang perlu dijelaskan.

 

Ini yang aku sadari soal prompt engineering setelah semua percobaan itu:

Kita tidak bisa minta AI bantu kalau kita sendiri belum tahu apa yang kita mau. Bukan karena AI-nya terbatas  tapi karena AI bekerja berdasarkan informasi yang kita kasih. Kalau informasinya kabur, hasilnya kabur.

Freepik Assistant waktu itu tidak hanya bantu bikin storyboard. Dia bantu aku memperjelas kebutuhan aku sendiri dulu sebelum mulai.

Dan itu, menurutku, adalah inti dari prompt engineering yang tidak banyak orang bicarakan.

Bukan soal ngomong apa ke AI. Tapi soal sudah seberapa jelas kita dengan kebutuhan kita sendiri sebelum mulai ngomong.

 

Kamu pernah dapat hasil AI yang jauh lebih bagus dari yang diekspektasi? Ceritakan di komentar  aku genuinely penasaran tools apa yang dipakai dan konteks seperti apa yang dikasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *