Gw Pakai ChatGPT Setiap Hari Selama 6 Bulan Ini yang Benar-Benar Berguna dan yang Tidak
Waktu pertama kali coba ChatGPT, aku langsung eksperimen kecil-kecilan.
Satu prompt yang sama, aku jalankan tiga kali. Tiga artikel keluar dalam beberapa menit.
Pas aku baca ulang ketiganya hasilnya terasa robot banget. Tidak ada yang seperti aku yang nulis. Terlalu textbook. Kalimat pembukaannya beda-beda, tapi isi dan nadanya sama semua. Aku sampai mikir, ini siapa yang nulis sebenernya?
Traffic tidak naik. Adsense tidak bergerak. Dan aku mulai sadar ini bukan soal tools-nya. Ini soal cara aku pakainya.
Pakai ChatGPT Setiap Hari Bukan Berarti Langsung Bisa
Yang aku pelajari pelan-pelan: ChatGPT itu bakal sebaik pertanyaan yang lo kasih ke dia.
Kalau lo ketik prompt generik, hasilnya ya generik. Kalau lo ketik prompt yang sudah ada konteksnya siapa lo, apa masalahnya, untuk siapa tulisannya hasilnya mulai berasa beda.
Aku tidak ikut kursus apapun waktu itu. Cuma trial and error sambil baca-baca sendiri. Pelan-pelan aku mulai paham cara kasih konteks yang lebih spesifik sebelum minta sesuatu ke ChatGPT.
Hasilnya masih perlu diedit banyak. Tapi setidaknya sudah ada fondasi yang bisa aku tambahkan pengalaman sendiri di atasnya.
Yang Benar-Benar Berguna Waktu Aku Lagi Butuh Referensi Solving Cepat
Titik balik yang paling aku ingat bukan dari urusan blog.
Waktu itu ada project yang butuh solusi integrasi sistem proxy yang harus connect dengan aplikasi pihak ketiga. Aku sudah cari di Google, tapi hasilnya berserakan. Forum bilang satu hal, dokumentasi bilang hal lain, Stack Overflow-nya dari tahun 2019 yang belum tentu masih relevan.
Aku coba tanya ke ChatGPT. Tapi bukan langsung nanya solusinya aku ceritain dulu situasinya, arsitekturnya, apa yang sudah dicoba, kenapa mentok. Lumayan panjang prompt-nya waktu itu.
Jawabannya tidak langsung beres. Tapi ada satu pendekatan yang dia kasih yang sebelumnya tidak kepikiran sama aku. Itu yang aku kejar lebih dalam.
Yang berguna bukan copy-paste solusinya. Tapi aku jadi tahu harus nanya ke mana selanjutnya.
Sekarang aku rutin pakai ChatGPT untuk riset customer, riset trend industri IT, dan eksplorasi ide konten kreatif. Bukan untuk dapat jawaban final tapi untuk tahu harus mulai dari mana.
Yang Bikin Frustrasi dan Ini Jujur dari Pengalaman Sendiri
Pernah suatu waktu aku hampir percaya jawabannya langsung. Nadanya yakin banget, tidak ada tanda-tanda dia ragu. Tapi sesuatu terasa aneh terlalu clean untuk masalah yang aku tahu rumit.
Aku buka Google. Dan ternyata beda sama yang dia bilang.
Pernah juga ChatGPT kasih jawaban yang sepengetahuan aku agak keluar dari solusi yang aku tahu. Aku bingung ini bener atau aku yang kurang info? Akhirnya aku verifikasi lagi ke Google Search buat cari pendekatan lain yang lebih aku pahami.
Sejak itu aku tidak pernah lagi skip verifikasi untuk hal-hal teknis. Bukan karena tidak percaya ChatGPT tapi karena aku tahu sekarang dia tidak akan bilang kalau dia tidak tahu.
Google Search tetap tidak tergantikan untuk ini.

Setelah 6 Bulan Yang Berubah dari Cara Aku Pakai
Aku tidak lagi coba cari jalan pintas dari ChatGPT.
Tiga hal yang sekarang paling sering aku lakukan:
- Riset customer dan industri sebelum meeting atau presentasi, aku pakai ChatGPT untuk memahami konteks klien lebih cepat
- Eksplorasi trend IT orientasi awal sebelum menggali ke sumber yang lebih spesifik
- Ide konten kreatif brainstorming awal yang nanti aku filter dan tambahkan pengalaman sendiri
Yang tidak aku lakukan: percaya mentah-mentah. Dan tidak aku lakukan juga: berharap dia bisa gantikan judgment yang dibangun dari pengalaman bertahun-tahun di lapangan.
Itu tetap tugasku.
Tiga artikel dari satu prompt itu masih aku ingat. Bukan karena berhasil tapi karena dari situ aku mulai belajar cara yang benar.
ChatGPT bukan alat yang akan menyelamatkanmu kalau lo tidak punya sesuatu untuk disampaikan. Tapi kalau lo sudah punya pengalaman dan konteks dia bisa jadi cukup membantu.
Kuncinya tetap ada di lo, bukan di tools-nya.


Response (1)