Aku Sudah Coba Bikin AI Influencer, dan Berhenti di Tengah Jalan. Ini Jujurnya.
Ada yang lebih menyakitkan dari tidak pernah mencoba.
Yaitu sudah mencoba, hasilnya lumayan, tapi berhenti sebelum selesai — dan baru sadar betapa dekatnya kamu dengan sesuatu yang besar ketika orang lain mulai serius membicarakannya.
Itu yang aku rasakan waktu duduk di sesi IDMC 2026, mendengar Brillian Fairiandi bicara soal masa depan AI influencer.
Bukan perasaan asing. Bukan juga kagum dari nol.
Lebih ke… “lah, ini kan yang pernah aku mulai dulu.”
Raka dan Sena: Dua Karakter yang Tidak Pernah Jadi
Kurang lebih setahun lalu, aku mulai iseng-iseng di bawah payung DigiCanvas.
Waktu itu tidak ada grand plan. Cuma penasaran seberapa jauh bisa bikin karakter AI yang muncul rutin di feed tanpa harus syuting beneran.
Tools yang aku pakai: Freepik Premium+ untuk generate visual, dan Dzine AI buat karakter yang tampilannya bisa dikontrol lebih ketat. Beberapa video animasi Raka sempat naik ke Instagram @ruangimajinasi.ai dan jujur, hasilnya tidak mengecewakan. Ada yang komen, ada yang nanya siapa karakternya, dan aku sempat excited.
Tapi konten keempat atau kelima, mulai terasa ada yang tidak beres.
Setiap kali mau bikin konten baru, aku hampir selalu mulai dari nol lagi. Tidak ada dokumen karakter yang bisa aku buka dan langsung pakai sebagai acuan. Visual Raka sedikit bergeser tiap sesi rambutnya beda, ekspresinya beda, vibenya kadang tidak sama. Kecil memang, tapi audience yang mengikuti dari awal pasti merasakan ada yang janggal.
Aku baru sadar masalahnya ketika mulai lebih banyak riset soal AI influencer yang sudah jalan lama di luar. Lil Miquela misalnya karakternya sudah ada sejak 2016 dan sampai sekarang tampilannya konsisten, cara ngomongnya konsisten, bahkan “cerita hidupnya” dibangun bertahap seperti serial. Lu do Magalu dari Brasil juga sama. Mereka bukan cuma punya karakter yang bagus mereka punya sistem di balik karakternya.
Raka dan Sena waktu itu? Baru punya nama dan beberapa referensi visual kasar. Tidak ada panduan tone of voice, tidak ada template yang terkunci, tidak ada jadwal produksi yang realistis untuk dijalankan sendiri sambil handle kerjaan lain.
Masalahnya bukan di Freepik atau Dzine. Kedua tools itu sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk eksperimen di level ini.
Masalahnya ada di aku yang mulai produksi sebelum sistemnya siap.
Kenapa Berhenti? Ini Jujurnya.
Kalau aku bilang “kesibukannya,” itu tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak sepenuhnya jujur.
Yang lebih akurat: aku belum punya sistem yang cukup kuat untuk menjalankan AI influencer secara konsisten.
Karakternya masih berubah-ubah. Raka kadang tampil dengan gaya visual yang sedikit berbeda di setiap konten dan itu masalah besar untuk AI influencer. Audience butuh mengenali karakter ini dari postingan pertama sampai postingan ke-50 tanpa harus berpikir dua kali. Konsistensi visual bukan detail kecil, itu fondasi.
Hasilnya, setiap kali mau bikin konten baru, aku mulai dari hampir nol lagi. Tidak ada panduan karakter yang solid, tidak ada template visual yang terkunci, dan tidak ada jadwal produksi yang realistis.
Itu bukan masalah tools-nya. Freepik dan Dzine sebenarnya sudah cukup capable untuk level eksperimen. Masalahnya ada di sistemnya atau lebih tepatnya, tidak adanya sistem.
Yang Berubah Setelah IDMC
Pulang dari IDMC, ada satu insight dari Brillian Fairiandi yang terus muter di kepala.
Bahwa AI influencer yang berhasil bukan yang paling canggih secara teknologi. Tapi yang paling konsisten dalam membangun karakter dan hadir setiap hari.
Itu kalimat yang langsung menohok karena persis di situlah Raka dan Sena gagal. Bukan di kualitas visualnya. Di konsistensinya.
Dan sekarang, setelah lebih banyak referensi dan ekosistem tools yang makin mature, aku melihat ini dengan cara yang berbeda. Raka dan Sena bukan proyek yang gagal mereka proyek yang belum selesai.
Untuk DigiCanvas, AI influencer bukan sekadar konten eksperimen. Kalau dijalankan dengan benar, ini bisa jadi support sistem yang nyata karakter yang bicara ke target audience brand lokal setiap hari, konsisten, tanpa bergantung pada jadwal siapapun.
Kalau Kamu Mau Mulai Pelajaran yang Bisa Diambil dari Kesalahan Aku
Aku tidak mau artikel ini jadi sekadar curhat. Jadi ini yang konkret:
- Selesaikan character bible dulu sebelum produksi pertama
Nama, usia, latar belakang, cara ngomong, topik yang dibahas, topik yang tidak pernah dibahas semua harus terkunci sebelum satu konten pun naik. Ini yang tidak aku lakukan waktu itu.
- Kunci visual reference dari awal
Pakai tools seperti Freepik atau Dzine, pastikan ada satu set visual reference yang jadi “master” karakter kamu pose, ekspresi, warna, style. Setiap konten baru mengacu ke sana, bukan ke mood hari itu.
- Mulai dari satu karakter, satu platform
Aku sempat paralel antara Raka dan Sena di awal itu terlalu ambisius untuk fase eksperimen. Satu karakter, satu platform, konsisten selama tiga bulan dulu. Baru scale.
- Jadwal produksi yang realistis lebih penting dari jadwal posting yang ideal
Lebih baik posting tiga kali seminggu secara konsisten selama enam bulan, dibanding posting setiap hari selama dua minggu lalu hilang.
Raka Belum Pensiun
Ini bukan artikel penutup untuk Raka dan Sena.
Justru sebaliknya.
Dengan sistem yang lebih solid, referensi yang lebih dalam, dan pemahaman yang lebih jelas soal ke mana arah AI influencer di Indonesia dua karakter itu masih punya tempat di roadmap DigiCanvas.
Kamu yang sedang baca ini dan punya brand lokal, produk UMKM, atau jasa kreatif yang butuh wajah konsisten di media sosial ini momen yang tepat untuk mulai eksperimen. Bukan karena semua orang sudah melakukannya.
Tapi justru karena belum banyak yang serius.
Dan di sanalah peluangnya masih terbuka lebar.
Kamu pernah mulai sesuatu lalu berhenti di tengah jalan karena sistemnya belum siap? Ceritakan di komentar aku genuinely ingin tahu, bukan cuma soal AI influencer.









