Tools & Review

5 Hal Penting Sebelum Menulis Prompt ChatGPT

25
×

5 Hal Penting Sebelum Menulis Prompt ChatGPT

Share this article

“Buatkan proposal untuk customer.” Kalau kamu mengetik kalimat itu saat menulis prompt ChatGPT, permintaannya tidak salah. Masalahnya, ChatGPT belum tahu proposal untuk siapa, apa yang ditawarkan, dan keputusan apa yang kamu harapkan dari customer. Hasilnya mungkin rapi, tetapi terasa seperti proposal yang bisa dikirim oleh bisnis mana saja.

Situasi serupa muncul saat kamu meminta ide konten, balasan email, atau ringkasan rapat. Kita berharap AI langsung paham pekerjaan yang sedang dihadapi, padahal bahan yang diberikan baru satu kalimat. Ibarat meminta rekan kerja baru menyiapkan presentasi tanpa mengajaknya ikut rapat sebelumnya. Dia bisa membuat slide, tetapi kemungkinan besar akan menebak-nebak isinya.

Jadi, sebelum mencari “prompt sakti”, coba berhenti sebentar. Prompt bukan mantra. Yang lebih berguna adalah memahami pekerjaanmu sendiri, lalu memberi AI informasi yang cukup untuk membantu. Lima pertanyaan berikut bisa kamu pakai sebagai catatan singkat sebelum mulai mengetik.

 

5 pertanyaan sebelum menulis prompt ChatGPT

Kamu tidak perlu menulis dokumen panjang untuk menjawabnya. Untuk pekerjaan sederhana, satu atau dua kalimat per pertanyaan sudah cukup. Tujuannya bukan membuat prompt terlihat canggih, melainkan mengurangi bagian yang harus ditebak oleh AI.

 

1. Apa tujuan saya sebenarnya?

Mulai dari keputusan atau tindakan yang ingin terjadi setelah hasilnya dipakai. “Buat proposal” adalah tugas. “Membantu calon pelanggan memutuskan apakah paket layanan ini cocok untuk timnya” adalah tujuan. Perbedaannya kecil di atas kertas, tetapi besar saat menentukan apa yang perlu ditonjolkan.

Misalnya kamu menawarkan jasa pelatihan spreadsheet untuk staf administrasi sebuah toko grosir. Apakah proposal itu bertujuan memperkenalkan layanan untuk pertama kali, menjawab permintaan harga, atau menindaklanjuti diskusi yang sudah berjalan? Kalau calon pelanggan sudah tahu jasamu, pembukaan panjang tentang manfaat spreadsheet mungkin justru membuang waktu.

Coba lengkapi kalimat ini: Setelah membaca hasilnya, saya ingin orang tersebut memahami atau melakukan apa? Jawaban seperti “memahami pilihan paket dan mengajak diskusi jadwal” lebih membantu daripada “buat yang menarik”. Menarik bagi siapa, dan untuk apa? Nah, di situlah pekerjaan berpikirmu dimulai.

 

2. Siapa yang akan membaca atau memakai hasilnya?

Satu topik bisa dijelaskan dengan cara berbeda untuk orang yang berbeda. Penjelasan otomasi laporan kepada pemilik usaha mungkin perlu menekankan waktu yang bisa dihemat. Untuk staf yang mengerjakan laporan setiap Jumat, contoh alur kerjanya bisa lebih penting. Keduanya membahas hal yang sama, tetapi pertanyaannya tidak sama.

Sebutkan pembaca sejelas yang kamu tahu. Bukan sekadar “customer”, melainkan “pemilik toko grosir dengan enam staf administrasi yang belum pernah mengikuti pelatihan spreadsheet”. Kalau kamu belum tahu tingkat pemahaman mereka, katakan itu juga. AI bisa diminta memakai bahasa sederhana dan menandai istilah yang mungkin perlu dijelaskan.

Pertanyaan tentang pembaca juga membantu menentukan nada. Pesan WhatsApp untuk pelanggan lama tidak perlu terdengar seperti surat resmi. Sebaliknya, ringkasan yang akan dibawa ke rapat manajemen mungkin perlu lebih langsung dan mudah dipindai. Bayangkan hasilnya benar-benar berada di layar ponsel atau meja kerja orang tersebut.

 

3. Konteks apa yang perlu diketahui AI?

Konteks adalah informasi yang akan kamu ceritakan kepada rekan kerja sebelum meminta bantuannya. Tidak semua riwayat bisnis perlu dimasukkan. Pilih fakta yang mengubah isi jawaban: layanan yang ditawarkan, kebutuhan pelanggan, percakapan sebelumnya, masalah yang sedang terjadi, dan informasi yang masih belum pasti.

Dalam contoh pelatihan tadi, konteks yang berguna bisa berupa: staf sering menyalin data penjualan dari beberapa file; pemilik ingin laporan mingguan lebih mudah diperiksa; pelatihan akan dilakukan secara langsung di kantor mereka. Detail itu memberi arah. Sebaliknya, cerita panjang tentang bagaimana bisnismu berdiri mungkin tidak membantu menyusun proposal ini.

Bedakan juga fakta, asumsi, dan informasi yang belum ada. Kalau jumlah peserta belum dikonfirmasi, tulis “jumlah peserta belum diketahui”, bukan meminta AI mengisinya secara otomatis. Jika kamu menempelkan chat pelanggan, periksa dulu apakah ada nomor telepon, data pribadi, atau informasi bisnis sensitif yang tidak perlu dibagikan. Konteks yang baik bukan berarti menyerahkan semua data.

 

4. Apa batasannya?

Batasan bukan penghalang kreativitas. Batasan membuat hasil lebih cocok dipakai. Bayangkan kamu meminta rekomendasi tempat makan tanpa menyebut bahwa waktu istirahatmu cuma 30 menit. Sarannya bisa menarik, tetapi lokasinya terlalu jauh. Hal serupa terjadi pada prompt kerja.

Tuliskan hal yang tidak boleh dilanggar: panjang teks, saluran komunikasi, tenggat, gaya bahasa, cakupan layanan, atau informasi yang belum boleh dijanjikan. Untuk proposal pelatihan, kamu bisa menyebut bahwa harga masih akan dibahas, jadwal belum disepakati, dan materi harus fokus pada laporan penjualan. Ini mencegah draf terdengar seolah semua sudah final.

Kalau ada contoh gaya tulisan perusahaan, berikan beberapa kalimat sebagai acuan. Namun, jangan menumpuk instruksi yang saling bertabrakan, seperti “sangat singkat” sekaligus “jelaskan setiap detail secara menyeluruh”. Kamu perlu memilih mana yang paling penting. Biasanya itulah keputusan yang memang tidak bisa didelegasikan ke AI.

 

5. Output seperti apa yang saya inginkan?

“Buat yang bagus” sulit diperiksa. Lebih mudah kalau kamu menyebut bentuk hasilnya: draf email, tabel perbandingan, kerangka presentasi, daftar pertanyaan untuk pelanggan, atau proposal satu halaman. Sertakan bagian yang wajib ada dan bagian yang belum perlu dibuat.

Misalnya, sebelum menulis proposal penuh, kamu bisa meminta kerangka berisi masalah pelanggan, pendekatan pelatihan, ruang lingkup, dan langkah berikutnya. Kalau kerangkanya sudah tepat, barulah minta draf. Cara ini berguna ketika bahan awal masih berantakan, karena kamu bisa menangkap salah arah sebelum AI menghasilkan banyak paragraf yang harus dibongkar lagi.

Jelaskan juga bagaimana kamu ingin menangani informasi yang kurang. Kalimat seperti “tandai bagian yang perlu saya lengkapi, jangan mengarang angka” sering lebih berguna daripada perintah agar hasil terlihat selesai. Hasil yang jujur soal kekosongan data biasanya lebih mudah dipakai daripada draf mulus yang diam-diam menambahkan janji baru.

 

Mengubah lima jawaban menjadi satu prompt yang bisa dipakai

Sekarang kembali ke permintaan awal: “Buatkan proposal untuk customer.” Anggap kamu menjalankan usaha pelatihan spreadsheet. Kamu sudah berbicara singkat dengan pemilik toko grosir, tetapi belum punya semua detail. Lima jawaban tadi bisa ditulis sebagai catatan berikut.

  • Tujuan: membantu calon pelanggan menilai apakah pelatihan ini sesuai kebutuhan, lalu mengajak mereka membahas jadwal.
  • Pembaca: pemilik toko grosir yang ingin laporan penjualan mingguan lebih mudah diperiksa.
  • Konteks: staf menggabungkan data dari beberapa file; pelatihan direncanakan berlangsung langsung di kantor.
  • Batasan: harga, tanggal, dan jumlah peserta belum disepakati. Jangan membuat klaim penghematan waktu.
  • Output: kerangka proposal singkat, dengan bagian yang masih perlu dikonfirmasi diberi penanda.

Dari catatan itu, prompt-nya bisa menjadi seperti ini:

Saya menawarkan pelatihan spreadsheet untuk staf administrasi toko grosir. Calon pelanggan adalah pemilik usaha yang ingin laporan penjualan mingguan lebih mudah diperiksa. Saat ini staf menggabungkan data dari beberapa file, dan pelatihan direncanakan berlangsung langsung di kantor mereka. Buat kerangka proposal singkat agar calon pelanggan bisa menilai kecocokan layanan dan tahu apa yang perlu dibahas berikutnya. Sertakan bagian masalah, pendekatan pelatihan, ruang lingkup awal, dan langkah berikutnya. Harga, tanggal, serta jumlah peserta belum disepakati; tandai informasi itu sebagai hal yang perlu dikonfirmasi. Jangan mengarang angka atau menjanjikan hasil tertentu.

Perhatikan bahwa prompt tersebut tidak memakai kata-kata ajaib. Isinya hanya menjelaskan situasi kerja dengan cukup terang. AI masih bisa salah menafsirkan kebutuhan pelanggan, tetapi sekarang kamu punya dasar yang jelas untuk memeriksa dan mengoreksinya.

 

Kalau belum tahu semua jawabannya, jangan berhenti

Dalam pekerjaan nyata, lima pertanyaan itu jarang terjawab sempurna. Kamu mungkin belum tahu siapa pengambil keputusan, atau pelanggan belum menjelaskan masalah utamanya. Itu bukan alasan untuk mengisi celah dengan tebakan yang terdengar meyakinkan.

Kamu bisa membalik tugasnya. Alih-alih meminta draf final, minta AI menyusun pertanyaan klarifikasi. Contohnya: “Saya akan menawarkan pelatihan spreadsheet untuk toko grosir. Saya baru tahu mereka kesulitan membuat laporan mingguan. Buat tujuh pertanyaan yang perlu saya ajukan sebelum menyiapkan proposal. Urutkan dari yang paling penting dan jelaskan singkat mengapa tiap pertanyaan perlu ditanyakan.”

Hasil seperti itu bisa kamu pakai untuk menyiapkan percakapan dengan pelanggan. Tetap pilih pertanyaan yang wajar untuk hubunganmu dengan mereka. Tidak semua hal perlu ditanyakan dalam satu chat, apalagi kalau percakapannya baru dimulai. Kadang satu pertanyaan yang tepat lebih berguna daripada formulir panjang.

Framework yang sama juga berlaku di luar proposal. Saat meminta bantuan membuat caption promo, tentukan apakah tujuannya mengenalkan produk baru atau mengajak pelanggan lama memesan ulang. Saat merangkum rapat, jelaskan apakah pembacanya peserta rapat atau atasan yang tidak hadir. Lima pertanyaannya tetap sama; jawabannya mengikuti pekerjaanmu.

 

Periksa hasilnya terhadap pekerjaan, bukan terhadap prompt

Prompt yang lebih jelas tidak menjamin hasil sempurna. Setelah menerima jawaban, baca dengan kacamata orang yang akan memakainya. Apakah tujuan awal terbantu? Apakah bahasanya cocok untuk pembaca? Adakah asumsi yang berubah menjadi fakta, atau janji yang sebenarnya belum kamu setujui?

Untuk contoh proposal tadi, cek khusus bagian ruang lingkup dan langkah berikutnya. Jika draf tiba-tiba menyebut jumlah sesi, harga, atau tanggal tertentu, hapus atau minta revisi. Kalau masalah pelanggan dijelaskan terlalu yakin padahal kamu baru mendengar satu keluhan, lunakkan bahasanya. Mengedit bukan tanda prompt kamu gagal; itu bagian normal dari menyiapkan materi kerja. Kalau ingin melihat cara memeriksanya lebih jauh, kamu bisa baca kenapa hasil ChatGPT masih harus diedit.

Untuk tugas berikutnya hari ini, coba ambil satu permintaan yang biasanya kamu ketik spontan. Sebelum mengirimnya, jawab lima pertanyaan tadi di catatan singkat. Tidak perlu sempurna dan tidak perlu panjang. Lihat apakah kamu jadi lebih mudah menilai jawaban AI—bukan hanya lebih cepat mendapatkan teks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *